Home » » PKS di Mata Pedagang Koran

PKS di Mata Pedagang Koran

Written By PKS KABUPATEN TEGAL on Kamis, 01 November 2012 | 1.11.12

Berkarya dibalik kesederhanaan sebagai pedagang koran.
JIKA MENYUSURI JL. WAHID HASYIM SLAWI, KABUPATEN TEGAL ANDA AKAN MENEMUKAN ADA PEDAGANG KORAN YANG BERJUALAN DI TEPI TROTOAR. 

Lapaknya tak besar. Hanya papan sekedarnya untuk display koran-koran dan beberapa majalah. Biasanya ia buka mulai dari jam delapan pagi sampai jam dua siang. Beberapa koran didisplay dengan cara digantung menggunakan penjepit jemuran di atas seutas tali yang dibentangkan antara pohon dan tiang bambu yang menempati bekas penanda marka jalan yang sudah rusak. Sisanya diletakkan di atas lapak, berjajar. Membuka lapak di tepi trotoar ia lakukan setelah mengantar koran-koran ke pelanggan tetap. Saat ini ada 15 pelanggan yang berlangganan koran kepadanya. 

Hampir setiap hari ia berjualan koran, hari Minggu pun tetap jualan. Ia baru bisa libur ketika tanggal merah, selain hari Minggu. “Koran nggak terbit, jadi nggak ada yang bisa dijual,” ujarnya. Dari rumah ia berangkat jam setengah tujuh. Mengenderai sepeda ia menuju ke pusat kota Slawi dari rumahnya yang terletak di Desa Harjosari Kidul. Jarak dari rumahnya sampai lokasi sekitar 5 kilometer. Sepedanya bukan merek ternama, namun begitu istimewa dimata pemiliknya. Merek sepedanya bukan polygon atau pun wym cycle. Tapi entah, mereknya tak terbaca, lantaran warnanya sudah pudar dimakan usia. Yang jelas, dari bentuknya, bukan sepeda merek terkenal. 

Anak muda pedagang koran ini bernama Sutono. Ya, hanya itu nama yang ia miliki. Sudah hampir 5 tahun ia berjualan koran. Ia menganggap ini ladang yang tepat buat ia mencari maisyah setiap harinya, selain untuk menyambung hidup juga untuk meringangkan ayahnya yang sudah senja, dan sudah tak bekerja lagi. Dulu Sutono sempat bekerja di toko besi. Tapi ia tak tahan dengan ritme kerjanya yang begitu berat. Satu alasan kuat yang membuatnya ia resign dari toko besi adalah karena tak punya banyak waktu untuk membaca buku 

“Hobi saya memang baca buku. Dengan jualan koran, paling tidak ada kepuasan batin yang saya rasakan. Saya bisa sepuasnya baca koran dan majalah, dengan begitu wawasan saya bertambah, dan nggak gagap ketika ada yang mewawancarai seperti njenengan. Prinsip saya mencari maisyah, yang penting berkah,” ujarnya sambil tersenyum. Sosoknya yang sederhana memang pernah menarik sebagian besar media massa untuk meliputnya. Harian Radar Tegal dan Suara Merdeka pernah mengangkat profilnya. 

Bukan lantaran kesederhanaan hidup yang ia alami. Lepas dari itu, dia ternyata seorang penulis! Ini pula yang menjadi alasan kenapa media ini mengangkatnya dalam sebuah tulisan berlabel sosok inspiratif. Ia terbilang aktif menulis di koran dan majalah. Beberapa cerpennya pernah dimuat di media massa seperti Radar Tegal, Suara Merdeka, Wawasan, Tabloid Cempaka, Majalah Ummi, dan Majalah Tarbawi. Dua puluh lebih naskahnya baik yang fiksi maupun non fiksi pun sudah ada yang diterbitkan di media massa. Sedangkan yang sudah diterbitkan ada sekitar 13 buku antologi. “Semua naskah yang dibukukan itu yang saya ikutkan dari sayembara kepenulisan dan berhasil ia menangkan sebagai naskah terpilih,” tuturnya. 

Menunjukkan salah satu bukunya Curhat Anak Bangsa
Dari kisahnya ia menuturkan bahwa hobi membaca menjadikan pikirannya memiliki gagasan, dan seketika ingin menuliskannya. “Daripada lama-lama jadi sedimen, lebih baik saya tuliskan. Habis itu pikiran terasa lega. Senang saja,” ungkapnya. Itulah hebatnya penulis, yang selalu menggunakan diksi yang tidak biasa. Menyebut endapan ide saja, ia lebih memilih menggunakan kata sedimen ide. 

“PKS dimata pedagang koran seperti Mas Sutono itu bagaimana?” 

“Eh, ini wawancara nih?” tanyanya penuh selidik. 

“Bukan, ini lagi kuis berhadiah yang disiarkan acara TV swasta,” jawab saya asal saja, 

“Benar Mas, ini serius. Ini wawancara. Apa saya nggak kelihatan sebagai wartawan bawa kamera blocknote kayak gini?” 

“Ini dari sudut pandang saya sebagai pedagang koran ya, bukan sudut pandang yang lain,” 

“Baiklah,” 

“Menurut saya, PKS itu sebuah komoditas. Ketika PKS menjadi headline di koran-koran, pedagang koran seperti saya kena imbas karena koran dagangan saya laris. Pembelinya pun beragam, ada para kader, simpatisan,bahkan sampai orang-orang yang tidak suka dengan PKS. Mungkin mereka mau cari celah cela PKS,” katanya. 

“Memang banyak yang mencari celah cela PKS ya?” tanyaku pura-pura nggak tahu. 

“Bukan banyak lagi, tapi sangat banyak. Apalagi di dunia maya. Berita apapun mengenai PKS, entah berita baik apalagi berita buruk, banyak komentar-komentar yang lebih banyak menyudutkan PKS,” ujarnya. 

“Menurut njenengan, langkah apa yang sebaiknya harus PKS lakukan?” 

“Kalau menurut saya PKS harus klarifikasi, biar tidak semakin meluas. Dan yang paling penting, terus saja berbuat yang terbaik. Buktikan dengan tindakan. Dakwah itu banyak tantangan. Tantangan partai dakwah mungkin salah satunya adalah banyak yang menyudutkan sepak terjangnya,” jelasnya. 

Dari cara berceritanya, saya menangkap kesan kalau dia bukan pedagang koran biasa. Memang benar apa yang dikatakannya. Di dunia maya akan dengan mudah menemukan komentar-komentar yang menyudutkan PKS. Bahkan sampai ada sebuah artikel yang paragraf pertamanya menuliskan begini, “Jika saja Jaya Suprana mengadakan rekor siapakah partai yang paling banyak mendapat hujatan di dunia maya, PKS pasti pemenangnya.” (Ali Irfan)
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. PKS KABUPATEN TEGAL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger